Camatika
Bambang Udi Ukoro, Camat Tegalsari
Bermimpi
dalam Menjalankan Tugas
Mengawali karir sebagai Lurah termuda, kala itu Bambang Udi Ukoro berusia 25 tahun merupakan satu-satunya Lurah termuda di Surabaya. Dia bertugas di Kelurahan Dr Soetomo, Kecamatan Tegalsari tahun 1996. Sekarang dia menjabat sebagai Camat Tegalsari.
Banyak hal yang sudah dilakukan
selama menjadi abdi Negara. Dari
pawakannya yang kalem ternyata
dalam dirinya kukuh dan teguh dalam
menegakkan aturan. Sebagai abdi Negara
dia harus menjujung tinggi aturan
yang telah diatur dalam Undang-undang
maupun Peraturan Daerah
(Perda).
Karena kekukuhannya dalam
meneggakkan aturan dia tidak pernah
lama menjabat di sebuah wilayah yang
dipimpinnya. Dia pernah menjadi Kasi
Pemerintahan di Kecamatan Pakal
tahun 2001, itupun berlangsung selama
6 bulan. Pernah juga menjadi Sekcam
Krembangan juga tidak lama
hanya 9 bulan.
Dia juga pernah menjabat Sekcam
Dukuh Pakis tahun 2003-2006, Camat
Gunung Anyar tahun 2006, Camat Genteng
tahun 2007 sampai 22 Desember
2008. Bulan Juni 2009 dia dilantik sebagai
Camat Tegalsari sampai sekarang.
“Saya tidak tahu kenapa begitu
saya dipindah ke Kecamatan mau pun
Kelurahan pasti tidak lama,” tutur lakilaki
berkumis ini pada Gapura ketika
ditemui di kantornya.
Sebelum menjadi abdi Negara, dia
menempuh pendidikan di Sekolah
Tinggi Pendidikan Dalam Negeri
(STPDN). Dia merupakan angkatan pertama
yang juga pernah merasakan
Wajib Militer (wamil) selama 2 tahun.
Lulus dari STPDN tahun 1999.
Berbekal pengalaman dalam hal
administrasi pemerintahan yang dimiliki,
dia juga tergolong pintar dalam negoisasi
dan memberikan solusi dalam
menyelesaikan masalah. Di setiap
wilayah yang dia tempati selalu mengalami
perubahan yang sangat signifikan.
Dalam bekerja dia selalu punya
mimpi menciptakan hal-hal baru yang
bisa memajukan wilayah yang dia
pimpin. “Mimpi bagi saya merupakan
salah satu motivasi saya dalam bekerja,
karena tanpa bermimpi kita tidak akan
bisa melakukan sesuatu. Tapi, harus
mengenal wilayah tersebut, mengenal tokoh masyarakat, budaya, dan kebiasaan
masyarakat antar wilayah satu
dan lainnya kan berbeda,” imbuhnya.
Untuk lebih mengenal masyarakat
di wilayah yang dia pimpin, dia selalu
rutin menggelar pertemuan dengan
masyarakat. Mengajak mereka
melakukan kegiatan-kegiatan yang
menumbuhkan kepedulian warga terhadap
wilayahnya. “Saya mengajak
warga untuk bangkit membangun
kawasannya atau wilayahnya,” tandasnya
Ketika menjabat sebagai Kasi Pemerintahan
di Kecamatan Pakal, waktu
itu kegiatan secara adminitrasi kependudukan
belum ada. “Saya langsung
membuat operasional pelayanan
kependudukan secara online. Kebetulan
waktu itu saya menggunakan
jaringan crème Gresik,” urai bapak 3
anak ini.
Tidak hanya itu, ketika dia menjabat
sebagai Plt lurah Dukuh Kupang,
Kecamatan Dukuh Pakis. Dia mengajak
stafnya untuk donor darah yang dilakukan
selama 2,5 bulan sekali.
Kepedulian terhadap kesejahteraan
stafnya, dia membentuk Koperasi. “Sampai sekarang kegiatan donor
darh masih berlangsung, dan koperasi
yang saya bangun pun hasilnya sudah
dirasakan staf Dukuh Kupang,” kenangnya.
Dia juga sangat peduli dengan
stafnya, terbukti dia selalu memberikan
penghargaan pada staf yang dia rasa
baik dalam menjalankan tugas. Tidak
hanya aktif sebagai staf, yang sudah
pensiun pun dia beri penghargaan. Hal
tersebut sampai sekarang masih dia
lakukan di Kecamatan Tegalsari. “Untuk merangsang staf-staf saya,
maka perlu adanya pemilihan staf terbaik.
Saya juga berikan penghargaan
bagi yang pensiun sebagai rasa terima
kasih atas dedikasinya selama bekerja,”
tuturnya.
Selama menjabat dia punya konsep
kerja yang terus dia tekankan pada
stafnya. Yaitu selalu berikan pelaya nan
terbaik pada masyarakat, tidak lupa
untuk ucapkan terima kasih. “Hal itu
yang terus saya tanamkan pada staf
saya,” pungkasnya.
Ada pengalaman menarik yang dia
rasakan ketika menjabat sebagai Camat
Genteng. Pada saat dia melakukan
penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL)
Gembong dia acapkali didatangi preman-
preman PKL Gembong. Selama 4
hari rumahnya terpaksa dijaga pihak
Kepolisian. Tapi, tidak membuat dia
bergeming dan mengurungkan untuk
melakukan penertiban.
“Sekitar 12 preman itu mendata ngi
ke kantor tetap saya terima. Saya mencoba
mengkomunikasikan dengan baik-baik.
Alhamdulillah, mereka akhirnya
mengerti bahwa apa yang dilakukan
Pemkot Surabaya adalah me ngembalikan
fungsi jalan,” ceritanya.
Semenjak itulah, ketika akan menertibkan
PKL, dan Bangunan liar dia
membuat surat mengenai pengembalian
fungsi jalan yang ditandangani
bersama Kapolsek, dan Danramil. “Itu
saya lakukan untuk mengantisipasi
oknum yang bermain. Juga supaya tidak terjadi kesalahpahaman,” imbuhnya.
Dia punya mimpi untuk membangun
kawasan perkotaan yang berciri
dan nuansa pedesaan atau kampun.
Makanya, dia menciptakan kampong
batik Jatim di Kecamatan Genteng. Supaya
orang tertarik akan kampong
batik, dia terus mencari sesuatu yang
bisa menarik masyarakat. Akhirnya, dia
membuat maskot yang dinamakan “Cak Mogen” .
“Yang ingin saya tampilkan adalah
figure yang menarik, lucu, dan mengemaskan.
Cak mogen mempunyai ciri
berkumis dan berbadan gemuk,”
katanya.
Baginya dimanapun dia ditempatkan dia selalu berupaya untuk selalu
bekerja lebih baik dari sebelumnya,
bermanfaat bagi masyarakat. Dalam
internal apa yang dilakukan harus
berguna bagi staf.
Menurutnya, seorang pemimpin
berbeda dengan pimpinan. Pemimpin
berarti bakat yang terpendam, sedangkan
pimpinan diatur Surat Keputusan
(SK), harus mampu jadi tauladan bagi
masyarakat dan staf.
Dia menuturkan bahwa seorang
staf merupakan patner kerja, juga bisa
menjadi keluarga kedua sebagai tim
dalam bekerja. “Karena, waktu saya
bekerja keluarga saya adalah staf saya,
ketika rumah saya harus menjadi kepala keluarga bagi anak istri di rumah,”
ujarnya menutup pembicaraan. (rz)
LOGIN
